Setelah lebih dari delapan bulan dimulai dari pertengahan bulan Maret tahun 2020 sampai sekarang kita menginjak akhir bulan November 2020 kita semua masyarakat Indonesia berjuang melawan covid 19. Banyak hal yang terjadi selama masa kehati-hatian ini seperti anak-anak sekolah diperintahkan untuk melaksanakan pembelajaran secara jarak jauh dengan cara daring/online, para pekerja kantoran diusahakan dapat melaksanakan pekerjaannya di rumah yang dikenal dengan istilah Work From Home atau sering disebut dengan WFH, banyak pekerja-pekerja swasta yang di phk atau dirumahkan karena perekonomian seperti perdagangan tidak berjalan, tingkat penggunaan hiburan di internet dan media sosial meningkat tajam karena orang-orang lebih banyak diam di rumah dan memainkan gadget mereka, banyak yang usahanya bangkrut karena banyak orang menahan diri untuk belanja, tetapi ada beberapa juga mendadak maju karena terjun di bidang kesehatan dan jasa yang berhubungan dengan covid 19 ini. Selain dari perekonomian yang berubah drastis, dari sekian banyak yang terjadi selama pandemi ini yang mengalami perubahan drastis adalah dalam bidang pendidikan.
Menurut penulis yang bertahun-tahun terjun di dunia pendidikan, pendidikan adalah suatu usaha yang terstruktur dan tersusun untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada peserta didik agar peserta didik bisa tumbuh berkembang menjadi manusia yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai manusia yang beradab. Ketika orang tua sibuk mencari nafkah atau mengurusi rumah tangga maka para orang tua mempercayakan anak-anak mereka kepada pihak sekolah untuk mendidik anak mereka menjadi orang-orang yang pintar, memiliki keahlian, memiliki akhlak selayaknya akhlak orang-orang yang terdidik serta memberikan bekal agar anak-anaknya memiliki modal non materil untuk bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Jika pada sebelumnya pernah terjadi berita di media massa peristiwa guru yang disiksa oleh muridnya atau banyak terjadi peristiwa guru yang dilaporkan ke polisi oleh orang tuanya karena orang tua merasa anaknya diperlakukan tidak baik oleh gurunya, maka ditahun 2020 ini orang tua terpaksa harus mendidikan dan membimbing anak mereka sendiri untuk belajar di rumah. Dan yang terjadi adalah, manyak postingan di media sosial dan banyak juga yang sampai viral diketahui oleh banyak masyarakat Indonesia bahwa para orang tua merasa stress mengajari anaknya materi-materi pelajaran sekolah di rumah. Bukan karena materinya yang sulit, tetapi anaknya yang sulit untuk disuruh serius belajar dan memahami materi yang disampaikan oleh orang tuanya. Bahkan banyak orang tua yang tidak sabar sampai mencubit, memukul dan menendang anaknya saat belajar karena anaknya tidak menurut. Tingkat stress yang tinggi dari orang tua dalam mendidik anaknya tersebut membuat fenomena orang tua dan siswa mengeluh terhadap sistem pembelajaran online, mereka menginginkan sekolah kembali dibuka dengan dalih guru tidak mengajari siswa secara langsung dikatakan sebagai pembodohal masal, sedangkan pemerintah yang mendengar keluhan tersebut merasa bimbang akan mengambil keputusan di tengah pandemi ini, karena yang kita semua pahami bahwa pendidikan anak sangat penting dan tidak ada yang mau ini semua terjadi tetapi hal yang paling penting di atas segalanya adalah keselamatan. Banyak orang tua yang merasa risih anak-anak mereka yang biasanya pergi pagi pulang sore setiap hari untuk menuntut ilmu ternyata kini anak-anak mereka setiap waktu diam di rumah memainkan hp, tentunya keinginan orang tua anak-anaknya dapat kembali bersekolah agar setiap waktunya bisa dimanfaatkan untuk belajar namunperlu diingat lagi adalah ketika anak keluar rumah maka bahaya mengancam di mana-mana, terutama bila anak berkumpul di sekolah lalu terinfeksi virus karena ketidak hati-hatian anak maka pihak sekolah dan pemerintah juga yang akan disalahkan. Dan kalau itu terjadi berarti Indonesia tidak mengamalkan nilai-nilai pancasila yang menjadi dasar negara kita, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah ndonesia.
Banyak pihak berfikir guru merasa 'keenakan' karena tetap mendapatkan gajih padahal tidak ke sekolah dan mengajar, padahal guru juga mengeluh terhadap pembelajaran online ini namun tidak mereka sampaikan, seperti pembelajaran online yang membutuhkan kuota internet banyak sedangkan gajih mereka pas-pasan untuk keperluan rumah tangga sehari-hari dan membayar hutang-hutang sehingga untuk mengeluarkan uang 100 ribu untuk kuota terasa sangat berat, ada kuota dari pemerintah tetapi banyak yang tidak mendapatkan sampai sekarang, mendapat komplen dari siswa dan orang tua karena penyampaian materinya tidak dimengerti sedangkan fasilitas aplikasi pembelajaran online sangat terbatas, dituntut harus bisa membuat media pembelajaran yang menarik dan inovatif sedangkan alat, bahan dan biayanya tidak fasilitasi, sudah susah-susah membuat materi sebaik mungkin tetapi oleh siswa-siswanya tidak dikerjakan, tuntutan dari sekolah anak-anak nilai harus tuntas sedangkan anak belajarnya malas-malasan banyak yang bahkan tidak pernah mengerjakan tugas. Dilema memang, pandemi ini, satu dzat yang sangat kecil dan tidak terlihat namun mampu merubah seluruh tatanan kehidupan di dalam negara. Menjadikan banyak pihak tersadar bahwa hidup tidak selamanya akan aman dan nyaman. Begitupun dengan guru, guru yang sudah nyaman mengajar dengan metode convensional melalui ceramah secara tatap muka, kini dipaksa harus mengajar secara digital memanfaatkan kecanggihan teknologi, dan tidak ada toleransi bagi guru-guru sepuh yang dikenal dengan istilah 'gaptek' singkatan dari gagap teknologi untuk berhenti mengajar, mereka dipaksa sekarang harus langsung bisa walaupun sebelumnya belum bisa sama sekali.
Mari kita jadikan momen ini untuk menyadari bahwa tidak ada profesi yang mudah, terutama menjadi seorang guru. Guru yang mengajari anak-anak dengan hati yang ikhlas maka doa-doa terhadap siswa-siswanya yang sholeh tersebut InsyaAllah akan didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT, oleh karena itu pada tanggal 25 November tahun 2020 yang diperingati sebagai HARI GURU NASIONAL ini menjadi kesempatan bagi kita mengingat jasa-jasa guru yang telah sepenuh hati menghabiskan sebagian dari waktu hidupnya untuk mendidik anak-anak menjadi orang yang berpengetahuan dan berketerampilan. Cukup dengan saling mendoakan. Karena tidak ada bekal yang lebih baik untuk anak-anak kita selain doa dari orang-orang sholah dengan hati yang tulus dan ikhlas. Semoga siswa-siswi Indonesia menjadi orang-orang yang berhasil, sukses dan berguna bagi masyarakat, agama dan negara. Amiiin..
Komentar
Posting Komentar